aku mau nge share my first novel ..
syukron telah membaca :))
LOVE ADVENTURE
Ketika
cinta datang saat kau tidak mengerti apa itu cinta, pasti sangat sulit bagimu
untuk mendapatkannya. Dan ketika itu, kau mulai mempelajari apa sesungguhnya
cinta itu. Langkah-langkah yang kau lakukan untuk mendapatkannya, sebenarnya
dia telah mengetahuinya. Dia berpura-pura diam dan tidak mengetahuinya. Dia
hanya ingin melihat kau berusaha untuk mendapatkannya. Dan kenyataan yang
sebenarnya, dialah yang mengatur semua langkah itu, tetapi kau tidak menyadarinya.
Beginilah kisah yang terjadi pada cerita ‘love adventure’. Lihat kebawah yuk
?
BAB I
Gold’s meet
“kerinnn,
bangun sayang, nanti kesiangan loh ke sekolah” teriak mamaku dari luar kamar.
“iya mah, sebentar” sungutku yang masih dalam
keadaan terombang-ambing. Mataku masih terpejam melengkapi tidur yang kurasa
sangat belum puas. Bagaimana tidak? Perjalanan dari pekanbaru ke bandung
memakan waktu seharian penuh. Dan kami tiba di bandung tepat jam satu malam. Dan
waktu yang tersisa hingga jam setengah enam itulah waktuku untuk tidur.
aku langsung
bangkit dari tempat tidurku dan menuju ke arah jendela kamar lalu membukanya
“waw, udaranya
sejuk banget. Baru kali ini aku merasakan sesejuk ini” Gumamku menikmati udara
seger dari luar
“kerinnn”
panggil papaku yang membuatku terlonjak
“Cepetan mandinya. Papa hampir telambat nih” lanjut papaku
“iya iya
sebentar, mau siap kok” sahutku dari dalam kamar yang padahal aku belum
ngapa-ngapain dari tadi, hanya bengong melihat udara hampa diluar
Aku
mengobrak-abrik tasku untuk mencari handuk, karena aku belum menyusun
barang-barangku selepas tiba kemarin.
“kerin”
panggil papaku sambil mengetuk pintu kamar
“iya”
balasku yang masih mencari-cari handuk ke semua tasku
“papa
tunggu didalam mobil ya” ujar papaku dan langsung pergi
Tanpa pikir
panjang,aku berhenti mencari handuk dan berlari ke kamar mandi untuk menggosok
gigi tanpa mandi, kemudian bergegas memasang baju. Dan aku berlari menuju ruang
makan, meminum sedikit susu dan mengambil roti bantal tanpa selai.
“aku
pergi ya ma” sahutku yang mungkin hanya terdengar samar-samar oleh mama karena
bunyi dengungan blender membuat jus.
“ayo
kerin, kita berangkat” ajak papa yang
sudah duduk didalam mobil
◊◊◊◊
“selamat datang di sekolah baru ya sayang” ujar papa mencium keningku
Aku
tersenyum simpul dan mengacungkan jempol untuk meyakinkan papa
“papa
gak bisa ngantar kamu sampai ke dalam, papa mau buru-buru, udah telat” jawab papa selengkap-lengkapnya
“yah
papa, nanti aku gimana masuk kelasnya, aku kan gak tau kelasku dimana” keluhku
“di
jalan itu” tunjuk papa “ada ruang yang bertuliskan ruang
kurikulum , dan tanya dimana kelas kamu, ibu disana udah tau kamu kok,
tadi udah papa telpon salah satu dari mereka” jelas papa
Aku
langsung keluar dari mobil dengan muka berdecak sebel
“kerin”
panggil papaku “papa juga gak bisa jemput kamu nanti pulang, kamu jalan aja ya?
Kan dekat dari sini” rayu papaku agar aku mau
“baiklah” jawabku murung “selamat pagi papa” sapaku.
“selamat
pagi juga sayang, papa pergi ya, dada” sambil melambaikan tangannya kepadaku
dan melaju pergi meninggalkanku.
◊◊◊◊
Ketika
aku memasuki pintu gerbang, anak-anak pada melihatku. Mungkin karena mereka
tidak pernah melihatku sebelumnya, karena aku memang anak baru disini. Sekolah
ini sangat besar. Mungkin luasnya 4 kali dari sekolahku yang lama. Banyak
sepeda motor yang telah terparkir rapi di sebelahku. Ketika aku berjalan
mengikuti perintah papa, ada seseorang yang menabrakku dari belakang dan aku
langsung terjatuh.
“eh maaf maaf, aku gak sengaja” kata anak yang menabrakku tadi yang mencoba membantuku berdiri
Aku
menggeser cepat tangannya dan langsung berdiri dengan muka begitu marah. Ketika
aku berbalik melihat anak itu. Gila! Ganteng banget! Aku berpura-pura tidak
terpesona dengannya
“sakit
tau, gak liat apa ada orang didepan” jawabku sengit.
“maaf ya aku gak liat” mohonnya “eh ..” jawabnya terhenti sambil bingung memperhatikan wajahku. “kayaknya aku gak pernah liat kamu sebelumya ?” Tanyanya mengederkan pandangan ke wahjahku.
Belum
sempat aku menjawab pertanyaannya, anak-anak telah mengkremuninya sambil
berteriak “kak Kevin! Kak Kevin!” ada juga “Kevin! Kevin!” dan ada juga “dek Kevin! Dek Kevin!”. Gila,
berarti adek kelas sampai kakak kelas terpesona juga dengannya,bukan aku saja.
Aku pergi meninggalkan kerumunan itu.
Dalam perjalanan menuju ruang kurikulum, aku mengingat anak yang menabrakku tadi.
“namanya Kevin” gumamku dalam hati
sambil tersenyum senyum
Dari kejauhan, aku melihat ruangan yang bertuliskan kurikulum
“itu dia” gumamku kecil bahagia telah
menemukan ruangan itu dan bercampur bahagia karena bertemu dengan kevin
ketika melangkah masuk ke ruangan,
tiba-tiba ada yang menyapaku dari belakang
“kerin dwi kirana ya ?” Aku berbalik
sedikit ragu, ternyata bu guru
“iya bu” jawabku sambil menyalamnya
“ayo ibu antar ke kelasmu” ujarnya
merangkulku. Sepertinya dia guru yang sangat baik. Dari bicaranya, dan juga
wajahnya begitu muda dan cantik.
◊◊◊◊
Aku disuruh menunggu di depan kelas,
sampai ibu memanggilku untuk masuk. Aku mengedarkan pandangan ke semua sisi
sekolah. Sekolah yang benar-benar besar. Mataku terhenti terbelalak saat tepat
didepan kelasku. Kevin, seseorang yang dikagumi oleh banyak orang itu, termasuk
aku. Sedang berjalan santai didepan kelasku dengan kedua tangan disakunya.
Gayanya cool banget. Aku menyembunyikan wajahku, agar dia tidak mengetahui
keberadaanku. Ternyata aku salah, dia mengetahui keberadaanku. Dia melihat
sejenak ke arahku, lalu berlari mendekat didepanku. aku tersontak kaku. Dan
tidak bisa bergerak apa-apa. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya. Aku yang
semakin kaku didepannya, ingin sekali membalas uluran tangannya. Tetapi nasib
tidak berpihak.
“ayo kerin, silahkan masuk” ujar ibu guru
didalam ruangan menyuruhku masuk.
Aku langsung menjauh dari anak itu dan
masuk dengan gugup bercampur bahagia. Gugup karena memasuki ruangan yang tidak
ku kenal satupun orangnya. Bahagia berjumpa kevin
“ayo kerin, kenalkan namamu”
“selamat pagi teman-teman,” sapaku sedikit
terbata-bata
“pagi” jawab mereka dengan serentak
“kenalkan namaku kerin dwi kirana, kalian bisa
memanggilku kerin” lanjutku memperkenalkan diri
“sekarang, kamu duduk disebelah betti”
ujar buguru
Aku langsung berjalan ke arah tempat
dudukku. Aku sudah mengetahui betti itu dimana, karena hanya bangku disebelah
betti lah yang kosong.
Tiba ditempat duduk, aku tersenyum
pada betti. Dan diapun berbalik tersenyum padaku. Sepertinya dia orang yang
pendiam, karena aku tau dari raut wajahnya dan cara dia mengepang rambut.
Seperti betti lavea, cocok dengan namanya.
“kerin” panggil bu guru
“iya bu” jawabku
“nanti kamu ambil buku di perpustakaan
ya” ujar bu guru dengan lemah lembut
“iya bu”
Aku memperhatikan wajah betti
sepertinya dia ketakutan dan agak tidak nyaman.
“kamu kenapa?” tanyaku dengan lemah
lembut
Dia
kaget “gak ada kok” balasnya dengan terputus-putus
Aku melihat dari tatapannya,
sepertinya dia orang yang sangat baik hati walaupun dandanannya agak norak.
Sekarang, aku gak boleh tertipu dalam berteman lagi. Karena, saat di Jakarta
aku banyak memiliki teman, tetapi mereka hanya mengharapkan traktiranku. Tidak
berniat berteman denganku. Awalnya aku mengira, mereka bener-bener temanku.
Ternyata salah, saat aku sakit, tidak ada yang menjengukku. Saat uangku hilang,
tidak ada yang ingin mentraktirku. Padahal saat itu, aku tidak membawa bontot
dan air minum. Saat mendengar uangku hilang, mereka pada bubar dan pergi ke
kantin tanpa mengajakku. Yah, sejak itu aku selalu membawa uang pas-pasan untuk
belanjaku.
“kamu mau gak jadi temanku?” ujarku
sambil menyodongkan tangan kananku untuk bersalaman
Matanya
melebar kemudian memperhatikan wajahku
“kamu kan cantik, baik lagi. Kok mau
berteman denganku?” jawabnya dengan sangat lemah lembut
Aku
terkejut mendengar jawabannya. Jawaban yang sering kudengar di acara
perfileman, yang kupikir kata konyol. Dan ternyata terselip dikehidupanku
sendiri. Kupikir, kata-kata itu cukup menarik juga. Dia bilang aku cantik dan
baik. Aku mulai berpkir logis, kenapa dia berbicara ini padaku.
“berteman itu bukan berdasarkan cantik
atau baiknya seseorang. Tetapi, berteman itu berdasarkan kepedulian kita
terhadap seseorang untuk saling melengkapi. Itulah gunanya teman untuk saling
melengkapi” jelasku sambil tersenyum padanya berharap dia memegang tanganku
untuk bersalaman. Aku mengagumi diriku sendiri, tiba-tiba kata-kata ajaib itu
muncul dipikiranku.
Tiba-tiba
betti langsung tersenyum
“aku mau” ujarnya tersenyum lebar
sampai terlihat gigi kawatnya. Seperti senyum pepsodent
“kamu mau kan nanti menemaniku
mengambil buku diperpustakaan?” tanyaku
Dia hanya mengangguk bahagia. Aku
sesekali melihat kearah pintu kelas. Berharap keberuntungan berpihak padaku.
Siapa lagi harapanku, selain Kevin. orang yang pertama kali kulihat saat
memasuki sekolah ini. Tetapi, Kevin tak pernah muncul.
◊◊◊◊
Aku dan betti memasuki perpustakaan
yang sangat besar dan penuh buku-buku. Aku sangat suka melihat tumpukan buku
yang sangat rapi. Itu yang membuatku ingin membacanya semua.
Ketika aku dan betti mengambil buku
yang akan dipelajari, aku melihat Kevin sedang duduk di meja baca sedang
membaca buku dengan serius. Aku memperhatikan wajahnya yang begitu tampan bagi
semua cewek. Tiba-tiba …
“rin?” kejut betti membuyarkan
pandanganku
“kamu lagi melihat Kevin ya?” goda
betti tertawa
“ha? Gak kok. Siapa Kevin?” jawabku
mencoba mengelak. Tidak tau apa-apa
“gak usah bohong, tidak ada satu cewek
pun yang tidak menyukainya” jelasnya tersenyum senyum
Aku
terbelalak “sainganku banyak dong” gumamku kecil dan ternyata kuping betti
mendengar gumamku
“kan betul, kamu menyukainya” goda
betti
Aku
tersenyum malu “segitu banyakkah yang menyukai dia?” tanyaku yang masih tidak
percaya
“iya, dia itu orangnya perfect banget.
Dia ganteng, pintar, juara satu umum lagi, ramah, baik hati, kaya” jelas betti yang
membuatku terpukau pada anak itu. “oh ya, kamu kok bisa kenal dia? Padahal kamu
anak baru ” tanyanya penasaran
“jadi gini” sambil memperbaiki dudukku
“tadi saat aku memasuki gerbang, dia nabrak aku. Baru beberapa detik, cewek
cewek pada ngerumunin dia semua sambil teriak Kevin” ujarku panjang lebar
Aku
melirik Kevin lagi, ternyata dia sudah tidak ada
“hai” suara bariton pernah kudengar
sebelumnya
Aku berbalik dan terlonjak. Ternyata
dia adalah Kevin. Aku berdiri dengan sigap dan menundukkan kepala karena salah
tingkah. Betti hanya tersenyum-senyum melihatku dan kembali menyusun buku yang
akan kupelajari
“kamu yang aku tabrak tadi kan?”
tanyanya yang sangat sopan
“I iya” jawabku terbata-bata aku
gemetaran sampai-sampai tidak berani melihatnya
“ehem ehem” suara betti berdehem
Aku berbalik ke arah betti, aku
menunjukkan gemetaranku pada betti. Dan betti pun tertawa kecil.
Aku berbalik lagi ke arah Kevin. Aku
melihat Kevin tersenyum pada betti, senyumannya sangat lebar tidak seperti
biasanya
“aku minta maaf ya, soalnya tadi aku
gak terlalu focus membawa sepedanya” jelasnya
“iya, aku udah maafin kok” jawabku
malu
“oh ya, kalau boleh tau nama kamu
siapa?” tanyanya
Aku
rasanya ingin berteriak, karena dia menanyakan namaku. Ini adalah kesempatan
yang sangat bagus. Dia harus tau namaku, bisa jadi aku berpeluang untuk dapetin
dia. Saat aku ingin menjawab pertanyaannya,
“ehem ehem” suara betti berdehem lagi
Aku
melirik ke arah betti, tetapi betti mengelak “bukan aku yang berdehem”
“ehem ehem” suara berdehem itu muncul
lagi
Kami mencari-cari suara berdehem itu.
Dan ternyata suara itu berasal dari rak buku sebelah. Aku memisahkan buku-buku
untuk melihat siapa yang berdehem. Ternyata,
“oi” jawabku terkejut melihat seseorang
sedang melotot dibalik rak-rak buku itu
Terdengar telapak sepatu berdetuk
kearah kami, kami semua berdiam terpaku ketakutan. Karena dengar-dengar dari
betti, guru penjaga perpustakaan sangat galak. Bunyi berdetuk itu berhenti pas
didepanku. Aku melirik kearah bunyi itu. Dan ternyata benar, penjaga
perpustakaan sedang berada didepan kami sambil memegang kertas yang bertuliskan
“DON’T SPEAK! YOU KNOW?”
“maaf bu, permisi” ujar Kevin
“iya gak papa” balas ibu itu dengan
lemah lembut
Kevin
langsung pergi menuju tempat bacaannya semula. Tersisa aku dan betti yang ada
ditempat itu. Ibu itu langsung menatap sengit padaku dan berlalu pergi. Aku
menghela napas
“huh” desahku “bet, perasaan kevin yang
mengajakku mengobrol duluan. Tapi, saat Kevin minta maaf, ibu itu menjawabnya
sangat lemah lembut. Tetapi saat aku menatap ibu itu, dia menatap sengit
padaku. Aneh” ujarku sambil membawa buku-buku
“ibu itu cemburu padamu” bisik betti
pelan takut ketahuan oleh ibu penjaga itu
“kenapa? Kok cemburu?” tanyaku bingung bercampur penasaran
“kamu kan tadi bicara sama Kevin”
Aku masih bingung, kok ibu penjaga
cemburu dengan aku? Cuman gara-gara aku ngobrol dengan Kevin. Jangan jangan…
“betti, saingan ..” ujarku dipotong
oleh betti
“ngomongnya diluar aja, nanti kita
kena marah lagi sama ibu penjaga” bisik betti
Aku dan betti keluar dari perpustakaan
dengan buru-buru. Kami bergegas pergi untuk melanjutkan obrolan kami.
“betti, sainganku sampai ibu guru dong”
ujarku memulai pembicaraan
“iya, semua orang pada terpukau dengan
dia, dia disebut pangeran di sekolah ini. Tetapi, dia tidak pernah mempedulikan
yang begituan, dia selalu ramah dengan semua orang tanpa terkecuali” jelas
betti “lihatkan, dia aja tadi tersenyum padaku” lanjut betti meyakinkanku
Aku
mencerna omongan betti “bet, berarti aku sia-sia dong?” tanyaku
“kenapa sia-sia? Masih banyak peluang
kok. Dimana-mana, setiap orang pasti ada satu orang yang disukainya, gak mungkin
enggak. Aku yakin itu” jelas betti mengembalikan semangatku yang langsung
membawaku duduk dibawah pohon “kita cerita disini aja, lebih seru”
“kok disini?” tanyaku bingung, Soalnya
tempat ini jauh dari orang ramai.
“aku selalu disini untuk mengaduh
apapun. Tempat ini sejuk, nyaman dan tidak bising” jelasnya sambil membuka
kacamatanya
Aku
memperhatikan wajah betti tanpa berkedip, dia terlihat sangat cantik jika tidak
memakai kacamata
“kamu terlihat cantik seperti itu”
pujiku
Betti
tersenyum lebar “terima kasih”
Aku
memperhatikan wajah betti lebih dalam, wajahnya mirip dengan seseorang.
“betti, kamu mirip dengan seseorang”
ujarku memicingkan mata dan mulai berpikir “oh iya, kamu mirip dengan Kevin”
semprotku membuat betti terlonjak menjauh dariku
Betti
langsung terkekeh mendengar ucapanku “kamu ini ada ada aja ya rin, bisa buat
aku ketawa” ujar betti kemudian memasang kacamatanya
“gak kok, ini serius. Bentuk matamu
sama dengan bentuk mata Kevin “ ujarku meyakinkan betti
“oh ya, ngomong-ngomong kamu udah tau
belum Kevin kelas berapa?” tanya betti mengalihkan pembicaraan
“iya ya” aku tidak kepikiran dari tadi
untuk menanyakan kelas Kevin
“kevin kelas 10.4” tambah betti
Aku menatap betti sebentar, “dia sebaya
dengan kita?”
“iya” jawab betti singkat dan langsung
mengangkat buku-buku untuk dibawa ke kelas “ayo kita ke kelas” ajak betti
menarik tanganku
◊◊◊◊
Bel
pulang telah berbunyi, semua anak berhamburan keluar kelas. Aku dan betti
sengaja berdiam di tempat duduk, karena semua anak berebutan untuk keluar .
“rin, kamu pulang naik apa?” tanya
betti agak keras karena dengungan tak jelas dari suaran bisingan anak-anak
“aku pulang jalan” jawabku
Setelah kelas
sunyi, aku dan betti baru beranjak dari tempat duduk untuk pulang
“kamu gak keberatan membawa buku
sebanyak ini?” tanyanya
“gak kok, lagian rumahku dekat dari
sini” ujarku
“oke, aku duluan ya” betti berlalu
pergi menaiki sepedanya
Aku
berderap pergi keluar pagar sambil menikmat udara segar yang tak pernah
kudapatkan di pekanbaru sebelumnya. aku masih tersenyum-senyum membayangkan
Kevin sang pangeran disekolah kami.
TUNGGU LANJUTANNYA YA?? :D
disini catatnfebbyalp.blogspot.com
follow ya : @febbyalp , tenang di follback kok :)
fb : febby a,. putri
disini catatnfebbyalp.blogspot.com
follow ya : @febbyalp , tenang di follback kok :)
fb : febby a,. putri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar