assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sabtu, 05 Oktober 2013

aku mau nge share my first novel ..
syukron telah membaca :)) 



LOVE ADVENTURE

Ketika cinta datang saat kau tidak mengerti apa itu cinta, pasti sangat sulit bagimu untuk mendapatkannya. Dan ketika itu, kau mulai mempelajari apa sesungguhnya cinta itu. Langkah-langkah yang kau lakukan untuk mendapatkannya, sebenarnya dia telah mengetahuinya. Dia berpura-pura diam dan tidak mengetahuinya. Dia hanya ingin melihat kau berusaha untuk mendapatkannya. Dan kenyataan yang sebenarnya, dialah yang mengatur semua langkah itu, tetapi kau tidak menyadarinya. Beginilah kisah yang terjadi pada cerita ‘love adventure’. Lihat kebawah yuk ?



BAB I

Gold’s meet

“kerinnn, bangun sayang, nanti kesiangan loh ke sekolah” teriak mamaku dari luar kamar.
 “iya mah, sebentar” sungutku yang masih dalam keadaan terombang-ambing. Mataku masih terpejam melengkapi tidur yang kurasa sangat belum puas. Bagaimana tidak? Perjalanan dari pekanbaru ke bandung memakan waktu seharian penuh. Dan kami tiba di bandung tepat jam satu malam. Dan waktu yang tersisa hingga jam setengah enam itulah waktuku untuk tidur.

aku langsung bangkit dari tempat tidurku dan menuju ke arah jendela kamar lalu membukanya

“waw, udaranya sejuk banget. Baru kali ini aku merasakan sesejuk ini” Gumamku menikmati udara seger dari luar
“kerinnn” panggil papaku yang membuatku terlonjak  “Cepetan mandinya. Papa hampir telambat nih” lanjut papaku
“iya iya sebentar, mau siap kok” sahutku dari dalam kamar yang padahal aku belum ngapa-ngapain dari tadi, hanya bengong melihat udara hampa diluar

Aku mengobrak-abrik tasku untuk mencari handuk, karena aku belum menyusun barang-barangku selepas tiba kemarin.

          “kerin” panggil papaku sambil mengetuk pintu kamar
          “iya” balasku yang masih mencari-cari handuk ke semua tasku
          “papa tunggu didalam mobil ya” ujar papaku dan langsung pergi

Tanpa pikir panjang,aku berhenti mencari handuk dan berlari ke kamar mandi untuk menggosok gigi tanpa mandi, kemudian bergegas memasang baju. Dan aku berlari menuju ruang makan, meminum sedikit susu dan mengambil roti bantal tanpa selai.
         
          “aku pergi ya ma” sahutku yang mungkin hanya terdengar samar-samar oleh mama karena bunyi dengungan blender membuat jus.

          “ayo kerin, kita berangkat”  ajak papa yang sudah duduk didalam mobil

◊◊◊◊

 “selamat datang di sekolah baru ya sayang”  ujar papa mencium keningku
Aku tersenyum simpul dan mengacungkan jempol untuk meyakinkan papa
“papa gak bisa ngantar kamu sampai ke dalam, papa mau buru-buru, udah telat”  jawab papa selengkap-lengkapnya
“yah papa, nanti aku gimana masuk kelasnya, aku kan gak tau kelasku dimana” keluhku
“di jalan itu” tunjuk papa “ada ruang yang bertuliskan  ruang kurikulum , dan tanya dimana kelas kamu, ibu disana udah tau kamu kok, tadi udah papa telpon salah satu dari mereka” jelas papa
Aku langsung keluar dari mobil dengan muka berdecak sebel
“kerin” panggil papaku “papa juga gak bisa jemput kamu nanti pulang, kamu jalan aja ya? Kan dekat dari sini” rayu papaku agar aku mau
 “baiklah”  jawabku murung “selamat pagi papa” sapaku.
“selamat pagi juga sayang, papa pergi ya, dada” sambil melambaikan tangannya kepadaku dan melaju pergi meninggalkanku.

◊◊◊◊

Ketika aku memasuki pintu gerbang, anak-anak pada melihatku. Mungkin karena mereka tidak pernah melihatku sebelumnya, karena aku memang anak baru disini. Sekolah ini sangat besar. Mungkin luasnya 4 kali dari sekolahku yang lama. Banyak sepeda motor yang telah terparkir rapi di sebelahku. Ketika aku berjalan mengikuti perintah papa, ada seseorang yang menabrakku dari belakang dan aku langsung terjatuh.

          “eh maaf maaf, aku gak sengaja” kata anak yang menabrakku tadi yang mencoba membantuku berdiri
Aku menggeser cepat tangannya dan langsung berdiri dengan muka begitu marah. Ketika aku berbalik melihat anak itu. Gila! Ganteng banget! Aku berpura-pura tidak terpesona dengannya

“sakit tau, gak liat apa ada orang didepan” jawabku sengit.

          “maaf ya aku gak liat” mohonnya  “eh ..” jawabnya terhenti sambil bingung memperhatikan wajahku. “kayaknya aku gak pernah liat kamu sebelumya ?” Tanyanya mengederkan pandangan ke wahjahku.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, anak-anak telah mengkremuninya sambil berteriak “kak Kevin! Kak Kevin!” ada juga “Kevin! Kevin!”  dan ada juga “dek Kevin! Dek Kevin!”. Gila, berarti adek kelas sampai kakak kelas terpesona juga dengannya,bukan aku saja. Aku pergi meninggalkan kerumunan itu.      

          Dalam perjalanan menuju ruang kurikulum, aku mengingat anak yang menabrakku tadi.
          “namanya Kevin” gumamku dalam hati sambil tersenyum senyum

Dari kejauhan, aku melihat ruangan yang bertuliskan kurikulum
          “itu dia” gumamku kecil bahagia telah menemukan ruangan itu dan bercampur bahagia karena bertemu dengan kevin
          ketika melangkah masuk ke ruangan, tiba-tiba ada yang menyapaku dari belakang
          “kerin dwi kirana ya ?” Aku berbalik sedikit ragu, ternyata bu guru
            “iya bu”  jawabku sambil menyalamnya
          “ayo ibu antar ke kelasmu” ujarnya merangkulku. Sepertinya dia guru yang sangat baik. Dari bicaranya, dan juga wajahnya begitu muda dan cantik.
           
◊◊◊◊

          Aku disuruh menunggu di depan kelas, sampai ibu memanggilku untuk masuk. Aku mengedarkan pandangan ke semua sisi sekolah. Sekolah yang benar-benar besar. Mataku terhenti terbelalak saat tepat didepan kelasku. Kevin, seseorang yang dikagumi oleh banyak orang itu, termasuk aku. Sedang berjalan santai didepan kelasku dengan kedua tangan disakunya. Gayanya cool banget. Aku menyembunyikan wajahku, agar dia tidak mengetahui keberadaanku. Ternyata aku salah, dia mengetahui keberadaanku. Dia melihat sejenak ke arahku, lalu berlari mendekat didepanku. aku tersontak kaku. Dan tidak bisa bergerak apa-apa. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya. Aku yang semakin kaku didepannya, ingin sekali membalas uluran tangannya. Tetapi nasib tidak berpihak.
        
                    “ayo kerin, silahkan masuk” ujar ibu guru didalam ruangan menyuruhku masuk.
          Aku langsung menjauh dari anak itu dan masuk dengan gugup bercampur bahagia. Gugup karena memasuki ruangan yang tidak ku kenal satupun orangnya. Bahagia berjumpa kevin
            “ayo kerin, kenalkan namamu”
          “selamat pagi teman-teman,” sapaku sedikit terbata-bata
          “pagi” jawab mereka dengan serentak
           “kenalkan namaku kerin dwi kirana, kalian bisa memanggilku kerin” lanjutku memperkenalkan diri
          “sekarang, kamu duduk disebelah betti” ujar buguru
          Aku langsung berjalan ke arah tempat dudukku. Aku sudah mengetahui betti itu dimana, karena hanya bangku disebelah betti lah yang kosong.
          Tiba ditempat duduk, aku tersenyum pada betti. Dan diapun berbalik tersenyum padaku. Sepertinya dia orang yang pendiam, karena aku tau dari raut wajahnya dan cara dia mengepang rambut. Seperti betti lavea, cocok dengan namanya.
          “kerin” panggil bu guru
          “iya bu” jawabku
          “nanti kamu ambil buku di perpustakaan ya” ujar bu guru dengan lemah lembut
          “iya bu”
          Aku memperhatikan wajah betti sepertinya dia ketakutan dan agak tidak nyaman.
          “kamu kenapa?” tanyaku dengan lemah lembut
Dia kaget “gak ada kok” balasnya dengan terputus-putus
          Aku melihat dari tatapannya, sepertinya dia orang yang sangat baik hati walaupun dandanannya agak norak. Sekarang, aku gak boleh tertipu dalam berteman lagi. Karena, saat di Jakarta aku banyak memiliki teman, tetapi mereka hanya mengharapkan traktiranku. Tidak berniat berteman denganku. Awalnya aku mengira, mereka bener-bener temanku. Ternyata salah, saat aku sakit, tidak ada yang menjengukku. Saat uangku hilang, tidak ada yang ingin mentraktirku. Padahal saat itu, aku tidak membawa bontot dan air minum. Saat mendengar uangku hilang, mereka pada bubar dan pergi ke kantin tanpa mengajakku. Yah, sejak itu aku selalu membawa uang pas-pasan untuk belanjaku.
          “kamu mau gak jadi temanku?” ujarku sambil menyodongkan tangan kananku untuk bersalaman
Matanya melebar kemudian memperhatikan wajahku
          “kamu kan cantik, baik lagi. Kok mau berteman denganku?” jawabnya dengan sangat lemah lembut
Aku terkejut mendengar jawabannya. Jawaban yang sering kudengar di acara perfileman, yang kupikir kata konyol. Dan ternyata terselip dikehidupanku sendiri. Kupikir, kata-kata itu cukup menarik juga. Dia bilang aku cantik dan baik. Aku mulai berpkir logis, kenapa dia berbicara ini padaku.
          “berteman itu bukan berdasarkan cantik atau baiknya seseorang. Tetapi, berteman itu berdasarkan kepedulian kita terhadap seseorang untuk saling melengkapi. Itulah gunanya teman untuk saling melengkapi” jelasku sambil tersenyum padanya berharap dia memegang tanganku untuk bersalaman. Aku mengagumi diriku sendiri, tiba-tiba kata-kata ajaib itu muncul dipikiranku.
Tiba-tiba betti langsung tersenyum
          “aku mau” ujarnya tersenyum lebar sampai terlihat gigi kawatnya. Seperti senyum pepsodent
          “kamu mau kan nanti menemaniku mengambil buku diperpustakaan?” tanyaku
          Dia hanya mengangguk bahagia. Aku sesekali melihat kearah pintu kelas. Berharap keberuntungan berpihak padaku. Siapa lagi harapanku, selain Kevin. orang yang pertama kali kulihat saat memasuki sekolah ini. Tetapi, Kevin tak pernah muncul.


◊◊◊◊
          Aku dan betti memasuki perpustakaan yang sangat besar dan penuh buku-buku. Aku sangat suka melihat tumpukan buku yang sangat rapi. Itu yang membuatku ingin membacanya semua.
          Ketika aku dan betti mengambil buku yang akan dipelajari, aku melihat Kevin sedang duduk di meja baca sedang membaca buku dengan serius. Aku memperhatikan wajahnya yang begitu tampan bagi semua cewek. Tiba-tiba …
          “rin?” kejut betti membuyarkan pandanganku
          “kamu lagi melihat Kevin ya?” goda betti tertawa
          “ha? Gak kok. Siapa Kevin?” jawabku mencoba mengelak. Tidak tau apa-apa
          “gak usah bohong, tidak ada satu cewek pun yang tidak menyukainya” jelasnya tersenyum senyum
Aku terbelalak “sainganku banyak dong” gumamku kecil dan ternyata kuping betti mendengar gumamku
          “kan betul, kamu menyukainya” goda betti
Aku tersenyum malu “segitu banyakkah yang menyukai dia?” tanyaku yang masih tidak percaya
          “iya, dia itu orangnya perfect banget. Dia ganteng, pintar, juara satu umum lagi,  ramah, baik hati, kaya” jelas betti yang membuatku terpukau pada anak itu. “oh ya, kamu kok bisa kenal dia? Padahal kamu anak baru ” tanyanya penasaran
          “jadi gini” sambil memperbaiki dudukku “tadi saat aku memasuki gerbang, dia nabrak aku. Baru beberapa detik, cewek cewek pada ngerumunin dia semua sambil teriak Kevin” ujarku panjang lebar
Aku melirik Kevin lagi, ternyata dia sudah tidak ada
          “hai” suara bariton pernah kudengar sebelumnya
          Aku berbalik dan terlonjak. Ternyata dia adalah Kevin. Aku berdiri dengan sigap dan menundukkan kepala karena salah tingkah. Betti hanya tersenyum-senyum melihatku dan kembali menyusun buku yang akan kupelajari
          “kamu yang aku tabrak tadi kan?” tanyanya yang sangat sopan
          “I iya” jawabku terbata-bata aku gemetaran sampai-sampai tidak berani melihatnya
          “ehem ehem” suara betti berdehem
          Aku berbalik ke arah betti, aku menunjukkan gemetaranku pada betti. Dan betti pun tertawa kecil.
          Aku berbalik lagi ke arah Kevin. Aku melihat Kevin tersenyum pada betti, senyumannya sangat lebar tidak seperti biasanya
          “aku minta maaf ya, soalnya tadi aku gak terlalu focus membawa sepedanya” jelasnya
          “iya, aku udah maafin kok” jawabku malu
          “oh ya, kalau boleh tau nama kamu siapa?” tanyanya
Aku rasanya ingin berteriak, karena dia menanyakan namaku. Ini adalah kesempatan yang sangat bagus. Dia harus tau namaku, bisa jadi aku berpeluang untuk dapetin dia. Saat aku ingin menjawab pertanyaannya,
          “ehem ehem” suara betti berdehem lagi
Aku melirik ke arah betti, tetapi betti mengelak “bukan aku yang berdehem”
          “ehem ehem” suara berdehem itu muncul lagi
          Kami mencari-cari suara berdehem itu. Dan ternyata suara itu berasal dari rak buku sebelah. Aku memisahkan buku-buku untuk melihat siapa yang berdehem. Ternyata,
          “oi” jawabku terkejut melihat seseorang sedang melotot dibalik rak-rak buku itu
          Terdengar telapak sepatu berdetuk kearah kami, kami semua berdiam terpaku ketakutan. Karena dengar-dengar dari betti, guru penjaga perpustakaan sangat galak. Bunyi berdetuk itu berhenti pas didepanku. Aku melirik kearah bunyi itu. Dan ternyata benar, penjaga perpustakaan sedang berada didepan kami sambil memegang kertas yang bertuliskan “DON’T SPEAK! YOU KNOW?”
          “maaf bu, permisi” ujar Kevin
          “iya gak papa” balas ibu itu dengan lemah lembut
Kevin langsung pergi menuju tempat bacaannya semula. Tersisa aku dan betti yang ada ditempat itu. Ibu itu langsung menatap sengit padaku dan berlalu pergi. Aku menghela napas
          “huh” desahku “bet, perasaan kevin yang mengajakku mengobrol duluan. Tapi, saat Kevin minta maaf, ibu itu menjawabnya sangat lemah lembut. Tetapi saat aku menatap ibu itu, dia menatap sengit padaku. Aneh” ujarku sambil membawa buku-buku
          “ibu itu cemburu padamu” bisik betti pelan takut ketahuan oleh ibu penjaga itu
          “kenapa? Kok cemburu?”  tanyaku bingung bercampur penasaran
          “kamu kan tadi bicara sama Kevin”
          Aku masih bingung, kok ibu penjaga cemburu dengan aku? Cuman gara-gara aku ngobrol  dengan Kevin. Jangan jangan…
          “betti, saingan ..” ujarku dipotong oleh betti
          “ngomongnya diluar aja, nanti kita kena marah lagi sama ibu penjaga” bisik betti
          Aku dan betti keluar dari perpustakaan dengan buru-buru. Kami bergegas pergi untuk melanjutkan obrolan kami.
          “betti, sainganku sampai ibu guru dong” ujarku memulai pembicaraan
          “iya, semua orang pada terpukau dengan dia, dia disebut pangeran di sekolah ini. Tetapi, dia tidak pernah mempedulikan yang begituan, dia selalu ramah dengan semua orang tanpa terkecuali” jelas betti “lihatkan, dia aja tadi tersenyum padaku” lanjut betti meyakinkanku
Aku mencerna omongan betti “bet, berarti aku sia-sia dong?” tanyaku
          “kenapa sia-sia? Masih banyak peluang kok. Dimana-mana, setiap orang pasti ada satu orang yang disukainya, gak mungkin enggak. Aku yakin itu” jelas betti mengembalikan semangatku yang langsung membawaku duduk dibawah pohon “kita cerita disini aja, lebih seru”
          “kok disini?” tanyaku bingung, Soalnya tempat ini jauh dari orang ramai.
          “aku selalu disini untuk mengaduh apapun. Tempat ini sejuk, nyaman dan tidak bising” jelasnya sambil membuka kacamatanya
Aku memperhatikan wajah betti tanpa berkedip, dia terlihat sangat cantik jika tidak memakai kacamata
          “kamu terlihat cantik seperti itu” pujiku
Betti tersenyum lebar “terima kasih”
Aku memperhatikan wajah betti lebih dalam, wajahnya mirip dengan seseorang.
          “betti, kamu mirip dengan seseorang” ujarku memicingkan mata dan mulai berpikir “oh iya, kamu mirip dengan Kevin” semprotku membuat betti terlonjak menjauh dariku
Betti langsung terkekeh mendengar ucapanku “kamu ini ada ada aja ya rin, bisa buat aku ketawa” ujar betti kemudian memasang kacamatanya
          “gak kok, ini serius. Bentuk matamu sama dengan bentuk mata Kevin “ ujarku meyakinkan betti
          “oh ya, ngomong-ngomong kamu udah tau belum Kevin kelas berapa?” tanya betti mengalihkan pembicaraan
          “iya ya” aku tidak kepikiran dari tadi untuk menanyakan kelas Kevin
          “kevin kelas 10.4” tambah betti
     Aku menatap betti sebentar, “dia sebaya dengan kita?”
          “iya” jawab betti singkat dan langsung mengangkat buku-buku untuk dibawa ke kelas “ayo kita ke kelas” ajak betti menarik tanganku

◊◊◊◊

Bel pulang telah berbunyi, semua anak berhamburan keluar kelas. Aku dan betti sengaja berdiam di tempat duduk, karena semua anak berebutan untuk keluar .
          “rin, kamu pulang naik apa?” tanya betti agak keras karena dengungan tak jelas dari suaran bisingan anak-anak
          “aku pulang jalan” jawabku
Setelah kelas sunyi, aku dan betti baru beranjak dari tempat duduk untuk pulang
          “kamu gak keberatan membawa buku sebanyak ini?” tanyanya
          “gak kok, lagian rumahku dekat dari sini” ujarku
          “oke, aku duluan ya” betti berlalu pergi menaiki sepedanya
Aku berderap pergi keluar pagar sambil menikmat udara segar yang tak pernah kudapatkan di pekanbaru sebelumnya. aku masih tersenyum-senyum membayangkan Kevin sang pangeran disekolah kami.


TUNGGU LANJUTANNYA YA?? :D
disini catatnfebbyalp.blogspot.com

follow ya : @febbyalp , tenang di follback kok :)
fb : febby a,. putri 








Tidak ada komentar:

Posting Komentar